Sabtu, 17 Maret 2012

Sebait tentang Kebahagiaan

Alhamdulillah ya ( teringat seseorang? ), laptop baru. Pertama kali saya resmikan kompilasi bertajuk the daily note dipindahkan ke dalam laptop baru dengan merk yang berslogan Leading Inovation ( coba tebak? ). Sebenarnya saya sama sekali tidak pernah menyampaikan keinginan untuk memiliki laptop baru meski laptop lama saya sudah sangat parah kondisinya yakni hanya bisa menyala jika disambungkan dengan sumber arus alias batereinya yang sudah tidak beres. Karena bagi saya, punya laptop baru bukanlah prioritas saya saat ini, ada yang jauh lebih penting untuk segera diselesaikan. Faktanya kakak saya justru yang lebih kencang dalam mewujudkan laptop baru tersebut bagi saya. Alhasil, hadirlah si leading inovation di hadapan saya saat ini.
            Laptop baru, semangat baru. Khususnya semangat menulisnya. Kendati demikian saya tidak ingin ruh saya dalam menulis muncul lantaran laptop baru. Khawatirnya ini merupakan materialisme gaya baru. Kok bisa? Iyalah!!!Manusia yang hendak melakukan sesuatu karena iming-iming materi sama saja “menggantungkan” nyawanya pada hal-hal yang bersifat material dan ( biasanya ) bersifat optis, ada dan terasa oleh panca indera manusia. Panca indera menjadi satu-satunya perangkat andalan menjalani kehidupan ini sehingga manusia yang sejatinya juga mempunyai intuisi malah mendekati sifat bak hewan. Terdengar kasar namun sepertinya ini adalah analogi yang mudah dicerna. Kebahagiaan sesaat, bukan yang hakiki.
            Bicara soal bahagia. Hmmm...terus terang saya agak bingung dalam mengulasnya. Istilah yang satu ini merupakan hal yang sangat ingin diraih oleh setiap insan. Tetapi hal yang membuat segalanya ribet ialah kerelatifan manusia dalam memandang kebahagiaan itu sendiri. Ibarat sebuah fungsi, bisa jadi bahagia merupakan persamaan fungsi waktu. Kapan ia berada maka kuantitas dan jenis kebahagiaan yang dirasakan bisa saja berbeda-beda. Contoh sederhana, jika dikaitkan dengan masalah finansial. Coba bandingkan saja perasaan antara awal bulan dan pertengahan bulan, kemungkinan besar pasti beda ( jauh ). Pun dengan dengan situasi, sebab, dan pelbagai hal yang menjadi variabel dalam menentukan kualitas dan kuantitas kebahagiaan seseorang. Uniknya, antara manusia yang satu dengan yang lain mampu merasakan jenis kebahagiaan yang berbeda dalam waktu yang sama. Sekali lagi, kerelatifan dan cara berpikir seseorang dalam mendefinisikan sebuah kebahagiaan itu sendiri.
            Namun ada satu hal yang pasti, kebahagiaan hanya dapat hadir ketika rasa syukur yang didatangkan dalam hati sanubari manusia. Karena seringkali, kita tertipu dengan cara pandang kebahagiaan yang terlalu kaku, sempit, dan saklek. Apa yang membuat seseorang bahagia terlalu dinilai secara eksak, sehingga apa yang didapati saat ini tidak bisa dipandang sebagai suatu kebahagiaan. Ini namanya menyiksa diri. Sekarang yang dihadapi maka itulah hal-hal yang sebenarnya mampu membuat kita bahagia saat ini, bukannya mengkambinghitamkan nasib yang dinilai tidak mujur. Ah, buanglah jauh-jauh pemikiran tersebut. Yakinlah bahwa takdir kita hari ini meruapakan hal terbaik yang kita dapati. Sibuk dengan masa lalu yang tak mungkin kembali dan cemas dengan masa depan yang belum pasti dan tentu saja belum dapat diketahui sekarang merupakan suatu tindakan yang konyol. Bersyukur dan jalanilah hari ini dengan optimal, maka Insya Allah kebahagiaan itu akan datang kepada mereka yang mau membuka dirinya dengan takdir yang ia alami. Sekian

             

Selasa, 24 Januari 2012

Cerminan Paganisme Kini

Rabu, 25 Januari 2012
Menjelang ke kampus lagi

      Taktik dan strategi. Strategi dan taktik. Dibolak-balik sama saja. Keduanya unsur utama dalam membangun sebuah “bangunan”. Bangunan impian, imperium ide ( meminjam istilah yang dipakai oleh Ridwan Budiman ), tangga cita-cita, sejuta asa, dan apapun. Pasti perlu strategi dan taktik. Pun dalam membangun dakwah yang bisa menegakkan ajaran Islam, tidak lepas dari strategi dan taktik yang digunakan oleh para aktivisnya.

 
         Tadi pagi saya membaca sebagian terjemahan dari surah Al-Anbiya. Ada hal menarik yang menurut saya bisa dijadikan pelajaran yang amat berharga. Kala itu mata saya tertuju pada bagian yang menceritakan Nabi Ibrahim AS dalam meyakinkan kaumnya kalau berhala yang mereka sembah selama ini sebenarnya bukan Tuhan. Hal yang unik ialah cara yang beliau gunakan. Sudah bukan rahasia lagi, Nabi Ibrahim AS menghancurkan semua berhala yang ada di istana dan hanya meninggalkan berhala terbesar dan digantungkannya palu untuk menghancurkan patung-patung tadi di berhala yang terbesar itu. Ketika raja Namrud mendapati sesembahannya hancur, tidak butuh lama ia pun langsung menanyakan sekaligus menuding Nabi Ibrahim AS sebagai tersangka utama. Taktik yang digunakan untuk merespon pertanyaan raja Namrud ialah meminta raja menanyakan patung yang terbesar sekaligus menyuruhnya bertanya siapakah yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Raja Namrud terang saja menyahut bahwa patung tidak mungkin mampu berbicara. Nabi Ibrahim AS pun menjawab, “ Mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak ( pula ) mendatangkan mudarat kepadamu ? ( QS. Al-Anbiya : 66 ). Tentu saja, mereka sebenarnya sudah paham bahwa yang namanya patung tidak mungkin dapat bergerak dan berbicara bahkan sesembahan itu mereka sendirilah yang membuatnya lantas kenapa kita yang manusia saja yang notabene jauh lebih bisa berbicara dan bertindak justru menjadikan berhala tadi sebagai tuhan? Tidak masuk akal! Cara cerdas dari Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan secara terang kebodohan kaumnya selama ini.

        Itu zaman yang sudah terlewat berabad-abad yang lalu. Sejarah pun bergulir hingga ada masa Islam mampu berjaya kemudian masa pun dipergilirkan hingga di Turki Usmani yang mengawali kemuduran Islam hingga saat ini, masa jahiliyah kedua dan menuju kejayaan Islam yang terakhir, kejayaan di abad milenium. Saat ini, penyembahan terhadap berhala juga mulai marak kembali bahkan dengan kemasan yang lebih modern, atas nama pelestarian kebudayaan. Bila diperhatikan lebih seksama lagi, banyak di sekeliling kita simbol-simbol paganisme yang tampaknya memang sengaja ditambilkan beberapa pihak untuk eksistensi paganisme itu sendiri. Pemujaan terhadap popularitas, uang, liberalisme, humanisme yang ujungnya juga tertuju pada the one eye, si mata satu, simbol yang secara tersirat di dalam hadist juga disebutkan sebagai simbol dajjal. Itu saja masih diiringi dengan bintang yang sebenarnya merupakan baphomet, dewa matahari, lucifer, dan lain-lain. Era kini lebih pada doktrinisasi secara tidak sadar kepada kita akan penyembahan kepada berhala-berhala tadi, tentu dengan cara dan perangkat yang semakin canggih.
 
      Kembali, strategi dan taktik. Sudahkah kita, sebagai kader dakwah, menyadari hal ini ?

Minggu, 08 Januari 2012

Mencoba Menggali Makna Sebuah Ujian

Hari pertama UAS....

         Suatu momen yang barangkali tidak akan mungkin dihindari. Ini bagian dari ujian kehidupan yang memang seharusnya dihadapi. Saya mengandaikan UAS sebagai salah satu batu loncatan untuk meraih level kehidupan yang lebih baik. Suatu cobaan yang bersifat bak dua sisi mata uang. Di sisi lain ia mampu menjebloskan seseorang ke tingkat yang lebih "buruk" dan sebaliknya ia bisa menjadi jalan dalam menggapai mimpi dan cita-cita.

         Kehidupan menjadi dinamis dan menarik karena eksistensi dari sebuah ujian. Bisa jadi jarang kita sadari bahwa ujian merupakan salah satu nikmat yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah kepada para hamba-Nya. Hanya saja mindset yang tertanam sudah terlanjur membentuk sebuah imej buruk bahwa ujian mestilah sebuah penderitaan. Ini masalah perspektif. Jika ingin menerapkan perspektif yang sudah menjadi tradisi maka memang ujian merupakan sebuah penderitaan. Namun mulai detik ini cobalah untuk menjadi seorang "pemberontak". Pemberontakan akan sebuah tradisi yakni mengasumsikan  bahwa ujian meruapakan anugerah. Bukankah dalam kitab-Nya, Allah telah berjanji bahwa tidak ada ujian di dunia ini yang melampaui kemampuan hamba-Nya? Pun kita dapat menyimak dengan jelas bahwa Allah pun telah menjanjikan sebuah solusi dalam setiap ujian yang kita hadapi.
        Pertanyaan yang perlu kita renungi, mengapa ada ujian? Kenapa manusia harus menghadapi sebuah ujian dalam hidupnya? Jawabannya ( bagi saya ), karena ujian merupakan sebuah filter. Ujianlah yang akan menjadi bukti nyata akan konsistensi yang kita coba yakini selama ini. Ingat cerita Nabi Ayyub AS yang dicoba dengan ujian yang mungkin tidak sanggup kita bayangkan? Atau kalau belum cukup, bagaimana dengan ujian yang dihadapi Rasulullah SAW ketika memperjuangkan risalah-Nya? Ternyata ujian macam inilah yang akhirnya membentuk sebuah karakter militan para generasi rabbani karena dengan inilah sehingga mereka belajar dan berusaha yang tak henti dalam mengarungi jalan-Nya. 

         Tinggal bagaimana dengan kita? Sudahkah kita sadar dan berusaha dengan kesadaran itu bahwa ujian merupakan sebuah anugerah???

   

Jumat, 30 Desember 2011

Mencoba Melihat dari Perspektif Mahasiswa Biasa dan Bukan Siapa-Siapa : Represivitas Itu Bernama Apatisme

     Wacana dinamika perpolitikan kampus tidak akan pernah habis untuk ditelaah. Barangkali karena sifatnya yang fluktuatif, misterius, cantil (hmm...), dan sederet keunikannya yang membuat topik ini selalu digemakan oleh para kaum intelektual.

      Melihat kondisi dinamika mahasiswa saat ini, bisa dikatakan sedang bergeliat stagnan namun tetap saja bernafas walau represivitas apatisme tak hentinya melanda gerakan mahasiswa. Mengapa saya katakan stagnan? Karena situasi sekarang tidaklah serevolusionis dulu ketika era orba atau reformasi. Kenapa? Barangkali kita menganggap bahwa pemerintah sekarang tidak seotoriter dulu, kran demokrasi terbuka lebar, kebebasan dilegalkan di tiap sisi. Mungkin saja benar. Tetapi entah mengapa, penulis melihat kondisi sekarang terdapat represivitas baru yang sedang digencarkan oleh pihak tertentu terhadap mahasiswa. Apakah itu? Ya, itu tidak lain ialah apatisme.

          Kegiatan kuliah yang dipadatkan dan berkurangnya syarat jumlah minimal sks kemungkinan bisa menjadi alat yang ampuh dalam menumbuhkan sikap apatis mahasiswa untuk terlibat dalam politik kampus, walaupun hal ini tidak sepenuhnya layak disalahkan. Tetapi nampaknya sudah menjadi fitrah dari mahasiswa sendiri bahwa fokus di akademik saja dan meraih IPK tinggi menjadi satu-satunya kesuksesan dari seorang mahasiswa. Pragmatis, bisa jadi. Apatisme yang nantinya berbuah individualisme.

        Namun tidak serta merta penulis lantas menjadikan ini sebagai satu-satunya sumber dari apatisme yang berkembang di kalangan mahasiswa. Perlu berkaca dari perspektif penulis sebagai mahasiswa biasa dan bukan siapa-siapa dalam memandang  BEM KM dan DPM KM, serta beberapa gerakan mahasiswa saat ini. Terus terang, aktivis mahasiswa saat ini seperti hidup di dalam menara gading. Nyaman dalam sangkar sekretariatnya. Lembaga mahasiswa seolah-olah tak ubahnya seperti event organizer . Pekerjaan yang dilakoni "hanya" melaksanakan program kerja  yang telah direncanakan. Minim strategi dan taktik. Minim visi dan rencana strategis. Jangan salahkan para mahasiswa jika tiap pemira, hanya segelintir orang yang peduli. Karena lembaga eksekutif dan legislatif benar-benar "murni" lembaga politik yang isinya pun hanya konflik kepentingan, minim pengkajian secara intelektual

          Represivitas ala modern : apatisme. Apabila tidak ingin hal ini terjadi mungkin militansi para aktivis perlu dipicu dengan "kekalahan" dan mau merenungi sejenak, dari perspektif para mahaiswa biasa dan bukan siapa-siapa.

Sedikit Mengenai Saya


    Tidak ada salahnya jika penulis ingin mengenalkan diri kepada setiap pembacanya. Penulia blog ini bernama Monica Novianti, anak kedua dari dua bersaudara. Lahir dari pasangan Hariyanto dan Sri Sahidawati. Lahir di Palembang, 21 November 1990. Sempat menetap di Bogor namun akhirnya hijrah ke wilayah istimewa yakni Yogyakarta. Menempuh pendidikan secara formal di SD Negeri Purwomartani, SMP Negeri 5 Yogyakarta, SMA Negeri 11 Yogyakarta, dan saat ini kuliah di jurusan fisika, FMIPA UGM dengan minat astrofisika teoritik.
 

     Ketika SMA pernah menjadi pemimpin umum majalah GALAKSI dan staf jurnalistik Rohis Nurul Ilmi. Saat kuliah, aktif di DPM KM FMIPA UGM sabagai anggota Komisi Pengwasan ( 2009-2010 ), sebagi sekretaris ( 2010-2011 ), staf departemen edukasi Lingkar Studi Sains ( LSiS ), dan hingga kini sebagai sekretaris Partai Bunderan yang merupakan LSO ( Lembaga Semi otonom ) KAMMI UGM
 

     Catatan tambahan. Arti kata Monica ( yang katanya sebagian teman saya terdengar ambigu ). Dulu, ketika belum berjilbab, banyak yang mengira saya merupakan seorang penganut Katolik, baik SMP maupun SMA. Akhirnya saya mencoba menanyakan hal ini ke teman saya yang Katolik, kata dia, Monica itu merupakan salah satu santa dalam ajaran mereka. Tidak berhenti sampai di sana saya pun menelusuri arti nama tersebut, dan ternyata nama Monica diambil dari bahasa Italia yang berarti penasihat sehingga dulu saya pernah memakai nama samaran St. Advisor. Tapi sekarang, saya tidak bersedia memakai nama itu lagi lantaran beberapa hal. Mencoba mengambil sisi positifnya saja, Monica, penasihat, berarti dalam penerapannya, amar ma'ruf nahi munkar. Insya Allah

Sekedar Catatan yang Berawal dari Keisengan di Awal Hari




28 Oktober 2010Awal fajar di Kalasan

Don't mind the men behind the curtain .

There is something behind the throne greater than the king himself ( Sir William Pitt )

Sudah baca dua kalimat di atas? Semalam saya berpikir tiada henti tentang dua kalimat tersebut. Saya yakin anda memahaminya. Dua kalimat itu saya peroleh setelah melihat film dokumenter yang saya ambil dari komputer LSiS ( Lingkar Studi Sains ), kelompok studi Fakultas MIPA UGM, berjudul History Revealed. Awalnya saya tidak tertarik melihat film tersebut karena dari judulnya sepertinya agak membosankan. Namun suatu ketika virus iseng melanda pikiran saya sehingga tergeraklah untuk ber-ta'aruf dengan film tersebut. Hasilnya, hampir dua jam mata saya tidak berpaling dari flm itu dan memutuskan untuk mengambilnya untuk di-save di rumah.

Secara garis besar, si pembuat film yang konon kata kakak tingkat saya merupakan seorang atheis mengungkap suatu konspirasi terbesar sekaligus terlicik yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Tujuannya tentu saja untuk menyebarluaskan kemaksiatan di muka bumi untuk memenuhi hawa nafsu yang memang ada dalam setiap insan. Intinya, kemaksiatan yang kita lihat dan saksikan hampir setiap hari merupakan kejahatan yang luar biasa tersistematis. Saya sendiri dapat membaca kesungguhan dan totalitas perjuangan para penggagas kejahatan tersebut.

Spesifiknya, film ini membagi tiga bagian konspirasi. Pertama ialah mengungkap kebohongan serta kepalsuan sosok Jesus Christ dan ajaran Kristen yang tidak lebih hanya turunan dari ajaran paganisme yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Kedua mengenai rekayasa peristiwa 9/11 yang menjadi motor untuk melancarkan gerakan melawan terorisme global. Sesuatu yang mengejutkan ialah peristiwa ini ternyata telah direncanakan oleh pemerintah Amerika Serikat yang lebih dikhususkan lagi kepada George W Bush dan kawan-kawannya. Pada bagian kedua ini, si pembuat film mengajak kita untuk berpikir dan melihat berbagai kejanggalan di balik peristiwa paling mengerikan pada abad ke-21 ini. Pada bagian ketiga, yang merupakan bagian terakhir, bercerita tentang rahasia di balik pendirian Bank Sentral di Amerika atau yang biasa disebut The Federal Reserve Bank yang sebenarnya pendiriannya pun bertentangan dengan konstitusi yang berlaku di Amerika Serikat kala itu. Mengapa ini bisa terjadi? Secara singkat uang dan kekuasaan seorang pengusaha besar seperti Rockfeller, J.P. Morgan, dan Rotschild bermain di sini ( perlu dicermati juga bahwa ketiga orang ini memliki suatu persamaan : ketiganya masih keturunan yahudi ). Sekaligus hal ini berkaitan dengan dengan dua kalimat yang mengawali tulisan ini.

Ada sesuatu yang ingin saya sorot secara spesifik, yaitu kejanggalan pendirian The Federal Reserve Bank. Bisa dibilang bank ini merupakan bagian dari rencana besar para zionis internasional untuk mengembalikan kekuasaan mereka yang telah dihancurkan oleh kaum muslim selama berabad-abad. Salah satu untuk mengembalikan kekuasaan itu tentu saja mengembalikan sistem yang sudah lama mereka pegang dan yakini sekaligus diterapkan. Pada bidang ekonomi khususnya, sistem yang dianut oleh kaum yahudi ialah riba. Ya, sistem ini yang melandasi para pendiri The Federal Reserve Bank yang terdiri dari para bankir internasional untuk menancapkan kekuasaan secara mutlak di planet ini, termasuk di Indonesia. Tidak bisa disangkal bahwa ekonomi merupakan titik paling strategis sekaligus rawan dalam sebuah sistem karena melalui bidang inilah, suatu sistem yang sudah berdiri sejak lama dapat dipertahankan secara kuat atau sebaliknya, dijatuhkan dengan telak. Keadaan ini seperti yang pernah diungkapkan oleh salah satu presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Rosevelt : The real truth of the matter is that a financial element in the large centers has owned the government since the days of Andrew Jackson.

Sistem riba ini, yang digambarkan dalam History Revealed yang membuat masyarakat Amerika dan dunia pada umumnya hingga saat ini harus terperangkap dalam hutang yang terus-menerus bertambah. Kalau sudah namanya hutang, maka hal tersebut yang akan membuat seseorang tidak jauh beda dari seorang budak. Ya, budak dari segelintir orang yang buta dengan kebenaran. Sehingga kalau dicermati lagi, Amerika Serikat bukanlah negara super power seperti yang ditampilkan pada kita, namun sebenarnya, negara ini sudah terpuruk sejak awal berdirinya negara Amerika Serikat sendiri. Tetapi yang lebih menyedihkan, banyak rakyat Amerika yang tidak sadar bahwa kehidupan mereka sebenarnya sedang dikendalikan oleh segelintir orang yang bertujuan menjadikan rakyat negara ini tidak lebih dari seorang hamba sahaya. Sekali lagi, mereka ditipu dan secara tidak sadar telah termanipulasi di dalam rumah mereka sendiri.

Melihat film ini semalam semakin membuat saya paham mengapa Islam mengharamkan riba. Karena riba akan membuat seorang manusia yang notabene merupakan seorang khalifah di muka bumi justru kehilangan izzah-nya sebagai seorang manusia. Juga, film semakin membuat saya yakin akan penting, mendesaknya, dan urgensi dari adanya dakwah. Karena sampai saat ini pun, kejahatan yang merupakan warisan masa lalu masih terus menjalar di setiap lini kehidupan. Tahukah, pada bagian ketiga dari film ini, disebutkan bahwa tujuan final dari kemaksiatan ini ialah menundukkan seluruh masyarakat di dunia untuk patuh pada satu sistem kekuasaan yang terpusat namun kekuasaan tersebut ialah kekuasaan yang dzalim. Dari prediksi yang saya lakukan terhadap hal ini, pusat dari sistem itu sebenarnya bukan terletak di Amerika, namun di negara kecil tetapi ilegal dan selama berpuluh-puluh tahun melakukan kejahatan terbesar sepanjang sejarah manusia dan memakan korban paling banyak sebagai cara negara ini bertahan hidup. Kalian benar, negara itu tidak lain dan tidak bukan ialah Israel. Negara yahudi yang sudah beratus-ratus tahun merencenakan kejahatan ini yang termaktub dengan jelas dalam Protocol of Zion.

Ada sesuatu yang menarik untuk diamati pada bagian ini, yaitu mengenai peristiwa perang. Perang Dunia I dan II, Perang Vietnam, Perang Irak dan Afghanistan. Semua ini sebenarnya bermuara pada satu pihak yang merencenakan semua ini, tentu pihak ini, kembali, ialah dinasti keluarga Rockfeller dan orang-orang sejenisnya. Saya akan mengambil sebagian saja mengenai hal ini pada tulisan ini, yaitu mengenai Perang Dunia II. Seperti yang sudah diketahui oleh khalayak umum bahwa perang ini terjadi akibat agresi besar-besaran di Eropa oleh Nazi yang dipimpin oleh Ardolf Hitler dan sejarah menampilkan seolah-olah, Amerika Serikat dan negara-negara baratlah yang menentang dan melawan Nazi. Namun ada satu fakta yang terabaikan atau lebih tepatnya sengaja terlupakan dan disembunyikan. Kekuatan Nazi yang salah satunya merupakan pesawat tempur dan tank, bahan bakar yang dimiliki Nazi sebenarnya diperoleh dari transaksi jual beli dengan Standard Oil Company yang ternyata merupakan perusahaan minyak milik keluarga Rockfeller. Tentu semua orang tahu bahwa hal yang membuat Nazi begitu dikecam ialah kejahatan di kamp kosentrasi yang membunuh jutaan kaum yahudi di Eropa, tetapi tahukah bahwa kejahatan inipun melibatkan perusahaan yang saya sebutkan tadi dan bukankah Rockfeller sendiri masih keturunan yahudi? Tahukah bahwa dengan kejadian ini, negara Israel akhirnya dapat terbentuk dengan legitimasi yang kokoh dan setiap tahunnya negara ini menerima donasi jutaan dolar dari negara-negara barat sebagai bantuan dukacita atas kejahatan Nazi yang menimpa masyarakat Yahudi Eropa. Silahkan dipikirkan sendiri. Mungkin kita perlu merenungkan apa yang dikatakan oleh Benjamin Dislaeli berikut : The world is governed by very different personages from what is imagined by those who are not behind the scenes.

Realita ini seharusnya membangkitkan ghirah semua kaum muslim untuk terus melancarkan dakwah demi tegaknya suatu kekuasaan yang juga terpusat, Khilafah Islamiyah, tetapi sifatnya ialah rahmatan lil alamin karena memang itulah fitrah yang tertanam pada ajaran Islam. Kekuasaan yang ingin kita wujudkan merupakan kekuasaan yang berlandaskan ketakwaan kepada Allah, menjadikan Islam sebagai ustadziyatul alam sehingga nantinya dapat mewujudkan kesejahteraan untuk seluruh umat manusia. Perdaban yang bermartabat, itulah sifat dari mimpi seluruh umat Islam. Untuk memperolehnya, dibutuhkan para kader aktivis dakwah yang tangguh, cerdas, mampu membaca dan menganalisa the hidden connection dari tingkat lokal hingga internasional, dan tentu saja perencanaan yang strategis. Kita tentu tidak ingin kalah dari para pelopor kemaksiatan yang telah dijelaskan sebelumnya, dimana mereka sangatlah visioner serta mampu merencanakan kejahatan ini dengan detail untuk jangka waktu berabad-abad. Peradaban yang kita cita-citakan merupakan peradaban yang nantinya dapat mengantarkan kita dan semua kaum muslim menuju maghfirah-Nya. Insya Allah.

For The Incredible People in My Life


Senin, 27 Desember 2010

H-1 menjelang SUM

Akhir. Kata inilah yang kerap menghiasi benak saya akhir-akhir ini. Mendengarnya membuat saya sedikit menggidik, sedih, dan terharu. Hari ini merupakan hari terakhir kebersamaan saya bersama teman-teman yang membuat saya banyak belajar dari mereka, teman-teman yang terus terang, secara tulus saya ungkapkan sudah seperti keluarga saya di kampus. Meskipun pada realisasinya mungkin saja esensi keluarga tersebut belum dapat terwujud secara menyeluruh. Kalian tahu dimanakah saya dapat menemukan keluarga itu, yah coba saja tebak. Apapun perkiraan kalian, jawaban saya tetap bertumpu pada satu keluarga yang bernama DPM KM FMIPA UGM.

Teringat dulu ketika awal saya memasuki lembaga ini. Bermula dari teman sekelas saya yang menginformasikan adanya open recruitment untuk anggota DPM dari unsur prodi. Kala itu saya tidak begitu menggubrisnya karena saya berpikir untuk apa saya terlibat pada lembaga ini. Akhirnya informasi tersebut bak angin lalu, tidak ingin saya ingat. Tetapi seiring berjalannya waktu beberapa hari, entah mengapa dan tiba-tiba saja ( silahkan saja jika ada yang menganggap saya merupakan orang yang aneh ) keinginan untuk mendaftar sebagai anggota DPM muncul. Setelah saya pertimbangkan lagi selama beberapa hari, saya pikir tidak ada salahnya mencoba walaupun saya tidak terlalu berharap untuk diterima.

Singkat cerita, saya bergegas melengkapi segala persyaratan yang harus dimiliki jika ingin mendaftar. Setelah semuanya lengkap, segera saya serahkan segala berkas dan dokumen kepada ketua himaprodi yang bersangkutan. Jelang beberapa hari setelah itu, saya diberitahu via sms mengenai jadwal wawancara untuk calon DPM. Bismillah......saya mencoba menguatkan hati saya untuk mampu melalui test wawancara ini dengan baik. Diterima alhamdulillah, ditolak??? Well, at least I've try.

Hari H untuk wawancara pun tiba. Berbekal informasi yang sangat minim mengenai DPM, bisa dibilang saya nekat untuk menghadiri wawancara tersebut. Sesampainya di sana, saya sempat tertegun. Waktu itu, saya menyaksikan orang-orang yang mewawancarai para calon DPM merupakan wajah-wajah yang saya ketahui melalui kampanye saat pemira. Mendapati hal tersebut, ada sedikit kegelisahan. Mengapa? Karena bagi saya, orang-orang ini pastilah para insan yang memiliki pemikiran yang kritis serta analisis yang sangat tajam dalam membaca karakteristik seseorang. Pastilah pertanyaan yang diajukan sangatlah sulit. Namun hati nurani saya langsung mengatakan, “ Monica, kau tidak diizinkan untuk melarikan diri. Don't be a coward!”. Kalau mau diibaratkan pada sekuel sebuah film, bisa dibilang keadaan saya tersebut layaknya dalam film The Confession of Sophaholic pada adegan Rebecca Bloomwood ketika akan wawancara untuk poisisi seorang jurnalis di majalah Successful Saving, sebuah majalah yang bergerak di bidang finansial, padahal ia sama sekali buta tentang hal yang satu ini.

Wawancara pun dimulai. Pertama, saya diminta memperkenalkan diri. Lalu mulailah rentetan pertanyaan yang jujur saja membuat saya kewalahan. Pasalnya, banyak hal detail yang belum saya ketahui terkait lembaga legislatif di tataran fakultas ini. Hufff.....setelah dianggap cukup, saya diperkenankan untuk pulang. Di perjalanan saya hanya berdoa untuk yang diberikan yang terbaik. The most important is the effort that I've done not the result.

Beberapa pekan setelahnya, kembali melalui sms, saya diberitahu bahwasanya saya diterima untuk menjadi anggota DPM KM FMIPA UGM. Saya berkata pada diri saya sendiri, “ Hmmmm....Monic, perjalananmu di DPM telah dimulai.”

Demikianlah, saya menemui dimensi baru di kampus. Di sini, saya dan teman-teman yang lain benar-benar dituntut untuk kebal bekerja di bawah tekanan dan terampil bekerja sama dalam tim. Istilah-istilah yang sebelumnya asing seperti politik, pengawasan, aspirasi, undang-undang,legal drafting dan sebagainya lambat laun mulai akrab di telinga saya serta bentrok dengan BEM menjadi suatu hal yang biasa. Bekerja dengan orang-orang baru dengan berbagai macam karakter, pemikiran, prinsip, dan fikrah yang beragam membuat saya belajar untuk memahami semua perbedaan tersebut demi tercapainya satu tujuan yang telah disepakati. Keadaan ini mengingatkan saya ketika SMA. Waktu itu saya difokuskan untuk beramanah di bidang jurnalistik namun pada dua media dan tempat yang berbeda. Di sekolah, saya diamanahkan untuk menjadi pemimpin umum majalah sekolah. Saya masih ingat betul bagaimana saya dan teman-teman harus bekerja keras agar majalah ini dapat terbit pada waktunya tetapi dengan kualitas yang maksimal. Masih jelas dalam benak saya kala kami harus mati-matian mendapatkan dana dari sekolah dan sponsor, mencari narasumber yang sangat sibuk untuk dihubungi, membuat tulisan yang berkualitas sampai dengan bernegosiasi dengan percetakan. Masih terang juga ingatan itu ketika akhirnya saya memutuskan untuk tidak mematuhi larangan pembina jurnalistik sekolah untuk tidak meliput acara Parade Musik SCTV yang kala itu sedang booming dan wawancara eksklusif dengan grup band Nidji. Walaupun saya mengetahui betul, jika terjadi apa-apa pada staf saya yang bertugas mewawancarai tersebut, maka sayalah yang harus bertanggungjawab sepenuhnya tanpa membawa pihak sekolah. Namun akhirnya, beliau justru memuji kebandelan dan kenekatan kami dalam melangkahi mandat tersebut. Pasalnya, setelah majalah tersebut jadi, majalah SMA saya yang bernama GALAKSI ( Gaya Laporan Khusus Siswa Sebelas ) menjadi satu-satunya media partner intern sekolah yang berhasil mendapatkan izin kerjasama dan akses sebagai media peliput. Bahkan Kepala Sekolah pun turut bangga dengan kami dan para jurnalis senior sekolah juga mengatakan bahwa majalah edisi ini merupakan yang terbaik dan belum pernah ada sebelumnya. Alhamdulillah, saya hanya berucap dalam hati, semua itu atas izin Allah. Walaupun, sebenarnya saya memandang hasil kerja kami masih amat jauh dari istilah sempurna. Pun, tekanan yang saya dapatkan tidak berbeda ketika saya diminta oleh seorang teman untuk menjadi seorang broadcaster di salah satu stasiun radio. Setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, sehabis pulang sekolah, dengan naik bis saya harus segera ke tempat kerja untuk mengedit sekaligus menyiarkan berita yang telah disiapkan oleh partner saya. Tidak jarang saya pun mengambil informasi tambahan dari internet yang sekiranya up to date guna diinformasikan kepada pendengar. Tidak jarang pula hingga lebih dari jam 9 malam saya masih di studio untuk meng-edit hasil siaran dengan program Adobe Audition sampai-sampai mampu mengenali bentuk gelombang dari suara saya. Namun justru di situlah letak keindahan, seni, dan tantangannya.

Esensi seni mengemban amanah ketika SMA tidak banyak berubah ketika saya memutuskan untuk terlibat di DPM. Tak jarang kritik bahkan sampai hujatan mampir ke diri saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Tetapi saya menyadari, teman-teman dan situasi seperti inilah yang saya butuhkan. Walau awalnya tidak saya inginkan. Seiring berjalannya periode kepengurusan, sampailah saya pada suatu titik manakala teman-teman DPM mulai dari ketua hingga anggota komisi sudah saya anggap seperti keluarga. Walaupun butuh penyempurnaan yang lebih untuk benar-benar menjadikan hal ini benar-benar bersifat keluarga. Tetapi pada hari ini, hari ketika saya membuat tulisan ini, H-1 menjelang SUM, terus terang saya merasa sedih dan berat mengingat kenyataan bahwa ke depan, saya dan teman-teman akan jarang sekali berkumpul untuk hal yang sama. Begitu banyak duka, suka, dan peristiwa yang memberikan warna dan dinamika pada gerak lembaga ini. Begitu pun banyak pelajaran dan ilmu yang saya ambil dari teman-teman yang sungguh, kalau boleh jujur, saya sangat beruntung diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan mereka. Terima kasih, teman. Kalian telah mengajari saya banyak hal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya dan maafkan jika selama ini banyak yang tidak berkenan dari diri saya.