Melihat kondisi dinamika mahasiswa saat ini, bisa dikatakan sedang bergeliat stagnan namun tetap saja bernafas walau represivitas apatisme tak hentinya melanda gerakan mahasiswa. Mengapa saya katakan stagnan? Karena situasi sekarang tidaklah serevolusionis dulu ketika era orba atau reformasi. Kenapa? Barangkali kita menganggap bahwa pemerintah sekarang tidak seotoriter dulu, kran demokrasi terbuka lebar, kebebasan dilegalkan di tiap sisi. Mungkin saja benar. Tetapi entah mengapa, penulis melihat kondisi sekarang terdapat represivitas baru yang sedang digencarkan oleh pihak tertentu terhadap mahasiswa. Apakah itu? Ya, itu tidak lain ialah apatisme.
Kegiatan kuliah yang dipadatkan dan berkurangnya syarat jumlah minimal sks kemungkinan bisa menjadi alat yang ampuh dalam menumbuhkan sikap apatis mahasiswa untuk terlibat dalam politik kampus, walaupun hal ini tidak sepenuhnya layak disalahkan. Tetapi nampaknya sudah menjadi fitrah dari mahasiswa sendiri bahwa fokus di akademik saja dan meraih IPK tinggi menjadi satu-satunya kesuksesan dari seorang mahasiswa. Pragmatis, bisa jadi. Apatisme yang nantinya berbuah individualisme.
Namun tidak serta merta penulis lantas menjadikan ini sebagai satu-satunya sumber dari apatisme yang berkembang di kalangan mahasiswa. Perlu berkaca dari perspektif penulis sebagai mahasiswa biasa dan bukan siapa-siapa dalam memandang BEM KM dan DPM KM, serta beberapa gerakan mahasiswa saat ini. Terus terang, aktivis mahasiswa saat ini seperti hidup di dalam menara gading. Nyaman dalam sangkar sekretariatnya. Lembaga mahasiswa seolah-olah tak ubahnya seperti event organizer . Pekerjaan yang dilakoni "hanya" melaksanakan program kerja yang telah direncanakan. Minim strategi dan taktik. Minim visi dan rencana strategis. Jangan salahkan para mahasiswa jika tiap pemira, hanya segelintir orang yang peduli. Karena lembaga eksekutif dan legislatif benar-benar "murni" lembaga politik yang isinya pun hanya konflik kepentingan, minim pengkajian secara intelektual

Tidak ada komentar:
Posting Komentar