Jumat, 30 Desember 2011

For The Incredible People in My Life


Senin, 27 Desember 2010

H-1 menjelang SUM

Akhir. Kata inilah yang kerap menghiasi benak saya akhir-akhir ini. Mendengarnya membuat saya sedikit menggidik, sedih, dan terharu. Hari ini merupakan hari terakhir kebersamaan saya bersama teman-teman yang membuat saya banyak belajar dari mereka, teman-teman yang terus terang, secara tulus saya ungkapkan sudah seperti keluarga saya di kampus. Meskipun pada realisasinya mungkin saja esensi keluarga tersebut belum dapat terwujud secara menyeluruh. Kalian tahu dimanakah saya dapat menemukan keluarga itu, yah coba saja tebak. Apapun perkiraan kalian, jawaban saya tetap bertumpu pada satu keluarga yang bernama DPM KM FMIPA UGM.

Teringat dulu ketika awal saya memasuki lembaga ini. Bermula dari teman sekelas saya yang menginformasikan adanya open recruitment untuk anggota DPM dari unsur prodi. Kala itu saya tidak begitu menggubrisnya karena saya berpikir untuk apa saya terlibat pada lembaga ini. Akhirnya informasi tersebut bak angin lalu, tidak ingin saya ingat. Tetapi seiring berjalannya waktu beberapa hari, entah mengapa dan tiba-tiba saja ( silahkan saja jika ada yang menganggap saya merupakan orang yang aneh ) keinginan untuk mendaftar sebagai anggota DPM muncul. Setelah saya pertimbangkan lagi selama beberapa hari, saya pikir tidak ada salahnya mencoba walaupun saya tidak terlalu berharap untuk diterima.

Singkat cerita, saya bergegas melengkapi segala persyaratan yang harus dimiliki jika ingin mendaftar. Setelah semuanya lengkap, segera saya serahkan segala berkas dan dokumen kepada ketua himaprodi yang bersangkutan. Jelang beberapa hari setelah itu, saya diberitahu via sms mengenai jadwal wawancara untuk calon DPM. Bismillah......saya mencoba menguatkan hati saya untuk mampu melalui test wawancara ini dengan baik. Diterima alhamdulillah, ditolak??? Well, at least I've try.

Hari H untuk wawancara pun tiba. Berbekal informasi yang sangat minim mengenai DPM, bisa dibilang saya nekat untuk menghadiri wawancara tersebut. Sesampainya di sana, saya sempat tertegun. Waktu itu, saya menyaksikan orang-orang yang mewawancarai para calon DPM merupakan wajah-wajah yang saya ketahui melalui kampanye saat pemira. Mendapati hal tersebut, ada sedikit kegelisahan. Mengapa? Karena bagi saya, orang-orang ini pastilah para insan yang memiliki pemikiran yang kritis serta analisis yang sangat tajam dalam membaca karakteristik seseorang. Pastilah pertanyaan yang diajukan sangatlah sulit. Namun hati nurani saya langsung mengatakan, “ Monica, kau tidak diizinkan untuk melarikan diri. Don't be a coward!”. Kalau mau diibaratkan pada sekuel sebuah film, bisa dibilang keadaan saya tersebut layaknya dalam film The Confession of Sophaholic pada adegan Rebecca Bloomwood ketika akan wawancara untuk poisisi seorang jurnalis di majalah Successful Saving, sebuah majalah yang bergerak di bidang finansial, padahal ia sama sekali buta tentang hal yang satu ini.

Wawancara pun dimulai. Pertama, saya diminta memperkenalkan diri. Lalu mulailah rentetan pertanyaan yang jujur saja membuat saya kewalahan. Pasalnya, banyak hal detail yang belum saya ketahui terkait lembaga legislatif di tataran fakultas ini. Hufff.....setelah dianggap cukup, saya diperkenankan untuk pulang. Di perjalanan saya hanya berdoa untuk yang diberikan yang terbaik. The most important is the effort that I've done not the result.

Beberapa pekan setelahnya, kembali melalui sms, saya diberitahu bahwasanya saya diterima untuk menjadi anggota DPM KM FMIPA UGM. Saya berkata pada diri saya sendiri, “ Hmmmm....Monic, perjalananmu di DPM telah dimulai.”

Demikianlah, saya menemui dimensi baru di kampus. Di sini, saya dan teman-teman yang lain benar-benar dituntut untuk kebal bekerja di bawah tekanan dan terampil bekerja sama dalam tim. Istilah-istilah yang sebelumnya asing seperti politik, pengawasan, aspirasi, undang-undang,legal drafting dan sebagainya lambat laun mulai akrab di telinga saya serta bentrok dengan BEM menjadi suatu hal yang biasa. Bekerja dengan orang-orang baru dengan berbagai macam karakter, pemikiran, prinsip, dan fikrah yang beragam membuat saya belajar untuk memahami semua perbedaan tersebut demi tercapainya satu tujuan yang telah disepakati. Keadaan ini mengingatkan saya ketika SMA. Waktu itu saya difokuskan untuk beramanah di bidang jurnalistik namun pada dua media dan tempat yang berbeda. Di sekolah, saya diamanahkan untuk menjadi pemimpin umum majalah sekolah. Saya masih ingat betul bagaimana saya dan teman-teman harus bekerja keras agar majalah ini dapat terbit pada waktunya tetapi dengan kualitas yang maksimal. Masih jelas dalam benak saya kala kami harus mati-matian mendapatkan dana dari sekolah dan sponsor, mencari narasumber yang sangat sibuk untuk dihubungi, membuat tulisan yang berkualitas sampai dengan bernegosiasi dengan percetakan. Masih terang juga ingatan itu ketika akhirnya saya memutuskan untuk tidak mematuhi larangan pembina jurnalistik sekolah untuk tidak meliput acara Parade Musik SCTV yang kala itu sedang booming dan wawancara eksklusif dengan grup band Nidji. Walaupun saya mengetahui betul, jika terjadi apa-apa pada staf saya yang bertugas mewawancarai tersebut, maka sayalah yang harus bertanggungjawab sepenuhnya tanpa membawa pihak sekolah. Namun akhirnya, beliau justru memuji kebandelan dan kenekatan kami dalam melangkahi mandat tersebut. Pasalnya, setelah majalah tersebut jadi, majalah SMA saya yang bernama GALAKSI ( Gaya Laporan Khusus Siswa Sebelas ) menjadi satu-satunya media partner intern sekolah yang berhasil mendapatkan izin kerjasama dan akses sebagai media peliput. Bahkan Kepala Sekolah pun turut bangga dengan kami dan para jurnalis senior sekolah juga mengatakan bahwa majalah edisi ini merupakan yang terbaik dan belum pernah ada sebelumnya. Alhamdulillah, saya hanya berucap dalam hati, semua itu atas izin Allah. Walaupun, sebenarnya saya memandang hasil kerja kami masih amat jauh dari istilah sempurna. Pun, tekanan yang saya dapatkan tidak berbeda ketika saya diminta oleh seorang teman untuk menjadi seorang broadcaster di salah satu stasiun radio. Setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, sehabis pulang sekolah, dengan naik bis saya harus segera ke tempat kerja untuk mengedit sekaligus menyiarkan berita yang telah disiapkan oleh partner saya. Tidak jarang saya pun mengambil informasi tambahan dari internet yang sekiranya up to date guna diinformasikan kepada pendengar. Tidak jarang pula hingga lebih dari jam 9 malam saya masih di studio untuk meng-edit hasil siaran dengan program Adobe Audition sampai-sampai mampu mengenali bentuk gelombang dari suara saya. Namun justru di situlah letak keindahan, seni, dan tantangannya.

Esensi seni mengemban amanah ketika SMA tidak banyak berubah ketika saya memutuskan untuk terlibat di DPM. Tak jarang kritik bahkan sampai hujatan mampir ke diri saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Tetapi saya menyadari, teman-teman dan situasi seperti inilah yang saya butuhkan. Walau awalnya tidak saya inginkan. Seiring berjalannya periode kepengurusan, sampailah saya pada suatu titik manakala teman-teman DPM mulai dari ketua hingga anggota komisi sudah saya anggap seperti keluarga. Walaupun butuh penyempurnaan yang lebih untuk benar-benar menjadikan hal ini benar-benar bersifat keluarga. Tetapi pada hari ini, hari ketika saya membuat tulisan ini, H-1 menjelang SUM, terus terang saya merasa sedih dan berat mengingat kenyataan bahwa ke depan, saya dan teman-teman akan jarang sekali berkumpul untuk hal yang sama. Begitu banyak duka, suka, dan peristiwa yang memberikan warna dan dinamika pada gerak lembaga ini. Begitu pun banyak pelajaran dan ilmu yang saya ambil dari teman-teman yang sungguh, kalau boleh jujur, saya sangat beruntung diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan mereka. Terima kasih, teman. Kalian telah mengajari saya banyak hal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya dan maafkan jika selama ini banyak yang tidak berkenan dari diri saya.



Tidak ada komentar: