Sabtu, 17 Maret 2012

Sebait tentang Kebahagiaan

Alhamdulillah ya ( teringat seseorang? ), laptop baru. Pertama kali saya resmikan kompilasi bertajuk the daily note dipindahkan ke dalam laptop baru dengan merk yang berslogan Leading Inovation ( coba tebak? ). Sebenarnya saya sama sekali tidak pernah menyampaikan keinginan untuk memiliki laptop baru meski laptop lama saya sudah sangat parah kondisinya yakni hanya bisa menyala jika disambungkan dengan sumber arus alias batereinya yang sudah tidak beres. Karena bagi saya, punya laptop baru bukanlah prioritas saya saat ini, ada yang jauh lebih penting untuk segera diselesaikan. Faktanya kakak saya justru yang lebih kencang dalam mewujudkan laptop baru tersebut bagi saya. Alhasil, hadirlah si leading inovation di hadapan saya saat ini.
            Laptop baru, semangat baru. Khususnya semangat menulisnya. Kendati demikian saya tidak ingin ruh saya dalam menulis muncul lantaran laptop baru. Khawatirnya ini merupakan materialisme gaya baru. Kok bisa? Iyalah!!!Manusia yang hendak melakukan sesuatu karena iming-iming materi sama saja “menggantungkan” nyawanya pada hal-hal yang bersifat material dan ( biasanya ) bersifat optis, ada dan terasa oleh panca indera manusia. Panca indera menjadi satu-satunya perangkat andalan menjalani kehidupan ini sehingga manusia yang sejatinya juga mempunyai intuisi malah mendekati sifat bak hewan. Terdengar kasar namun sepertinya ini adalah analogi yang mudah dicerna. Kebahagiaan sesaat, bukan yang hakiki.
            Bicara soal bahagia. Hmmm...terus terang saya agak bingung dalam mengulasnya. Istilah yang satu ini merupakan hal yang sangat ingin diraih oleh setiap insan. Tetapi hal yang membuat segalanya ribet ialah kerelatifan manusia dalam memandang kebahagiaan itu sendiri. Ibarat sebuah fungsi, bisa jadi bahagia merupakan persamaan fungsi waktu. Kapan ia berada maka kuantitas dan jenis kebahagiaan yang dirasakan bisa saja berbeda-beda. Contoh sederhana, jika dikaitkan dengan masalah finansial. Coba bandingkan saja perasaan antara awal bulan dan pertengahan bulan, kemungkinan besar pasti beda ( jauh ). Pun dengan dengan situasi, sebab, dan pelbagai hal yang menjadi variabel dalam menentukan kualitas dan kuantitas kebahagiaan seseorang. Uniknya, antara manusia yang satu dengan yang lain mampu merasakan jenis kebahagiaan yang berbeda dalam waktu yang sama. Sekali lagi, kerelatifan dan cara berpikir seseorang dalam mendefinisikan sebuah kebahagiaan itu sendiri.
            Namun ada satu hal yang pasti, kebahagiaan hanya dapat hadir ketika rasa syukur yang didatangkan dalam hati sanubari manusia. Karena seringkali, kita tertipu dengan cara pandang kebahagiaan yang terlalu kaku, sempit, dan saklek. Apa yang membuat seseorang bahagia terlalu dinilai secara eksak, sehingga apa yang didapati saat ini tidak bisa dipandang sebagai suatu kebahagiaan. Ini namanya menyiksa diri. Sekarang yang dihadapi maka itulah hal-hal yang sebenarnya mampu membuat kita bahagia saat ini, bukannya mengkambinghitamkan nasib yang dinilai tidak mujur. Ah, buanglah jauh-jauh pemikiran tersebut. Yakinlah bahwa takdir kita hari ini meruapakan hal terbaik yang kita dapati. Sibuk dengan masa lalu yang tak mungkin kembali dan cemas dengan masa depan yang belum pasti dan tentu saja belum dapat diketahui sekarang merupakan suatu tindakan yang konyol. Bersyukur dan jalanilah hari ini dengan optimal, maka Insya Allah kebahagiaan itu akan datang kepada mereka yang mau membuka dirinya dengan takdir yang ia alami. Sekian

             

Tidak ada komentar: