Selasa, 24 Januari 2012

Cerminan Paganisme Kini

Rabu, 25 Januari 2012
Menjelang ke kampus lagi

      Taktik dan strategi. Strategi dan taktik. Dibolak-balik sama saja. Keduanya unsur utama dalam membangun sebuah “bangunan”. Bangunan impian, imperium ide ( meminjam istilah yang dipakai oleh Ridwan Budiman ), tangga cita-cita, sejuta asa, dan apapun. Pasti perlu strategi dan taktik. Pun dalam membangun dakwah yang bisa menegakkan ajaran Islam, tidak lepas dari strategi dan taktik yang digunakan oleh para aktivisnya.

 
         Tadi pagi saya membaca sebagian terjemahan dari surah Al-Anbiya. Ada hal menarik yang menurut saya bisa dijadikan pelajaran yang amat berharga. Kala itu mata saya tertuju pada bagian yang menceritakan Nabi Ibrahim AS dalam meyakinkan kaumnya kalau berhala yang mereka sembah selama ini sebenarnya bukan Tuhan. Hal yang unik ialah cara yang beliau gunakan. Sudah bukan rahasia lagi, Nabi Ibrahim AS menghancurkan semua berhala yang ada di istana dan hanya meninggalkan berhala terbesar dan digantungkannya palu untuk menghancurkan patung-patung tadi di berhala yang terbesar itu. Ketika raja Namrud mendapati sesembahannya hancur, tidak butuh lama ia pun langsung menanyakan sekaligus menuding Nabi Ibrahim AS sebagai tersangka utama. Taktik yang digunakan untuk merespon pertanyaan raja Namrud ialah meminta raja menanyakan patung yang terbesar sekaligus menyuruhnya bertanya siapakah yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Raja Namrud terang saja menyahut bahwa patung tidak mungkin mampu berbicara. Nabi Ibrahim AS pun menjawab, “ Mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak ( pula ) mendatangkan mudarat kepadamu ? ( QS. Al-Anbiya : 66 ). Tentu saja, mereka sebenarnya sudah paham bahwa yang namanya patung tidak mungkin dapat bergerak dan berbicara bahkan sesembahan itu mereka sendirilah yang membuatnya lantas kenapa kita yang manusia saja yang notabene jauh lebih bisa berbicara dan bertindak justru menjadikan berhala tadi sebagai tuhan? Tidak masuk akal! Cara cerdas dari Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan secara terang kebodohan kaumnya selama ini.

        Itu zaman yang sudah terlewat berabad-abad yang lalu. Sejarah pun bergulir hingga ada masa Islam mampu berjaya kemudian masa pun dipergilirkan hingga di Turki Usmani yang mengawali kemuduran Islam hingga saat ini, masa jahiliyah kedua dan menuju kejayaan Islam yang terakhir, kejayaan di abad milenium. Saat ini, penyembahan terhadap berhala juga mulai marak kembali bahkan dengan kemasan yang lebih modern, atas nama pelestarian kebudayaan. Bila diperhatikan lebih seksama lagi, banyak di sekeliling kita simbol-simbol paganisme yang tampaknya memang sengaja ditambilkan beberapa pihak untuk eksistensi paganisme itu sendiri. Pemujaan terhadap popularitas, uang, liberalisme, humanisme yang ujungnya juga tertuju pada the one eye, si mata satu, simbol yang secara tersirat di dalam hadist juga disebutkan sebagai simbol dajjal. Itu saja masih diiringi dengan bintang yang sebenarnya merupakan baphomet, dewa matahari, lucifer, dan lain-lain. Era kini lebih pada doktrinisasi secara tidak sadar kepada kita akan penyembahan kepada berhala-berhala tadi, tentu dengan cara dan perangkat yang semakin canggih.
 
      Kembali, strategi dan taktik. Sudahkah kita, sebagai kader dakwah, menyadari hal ini ?

Tidak ada komentar: