Alhamdulillah ya ( teringat seseorang? ), laptop baru.
Pertama kali saya resmikan kompilasi bertajuk the daily note dipindahkan ke
dalam laptop baru dengan merk yang berslogan Leading Inovation ( coba tebak? ).
Sebenarnya saya sama sekali tidak pernah menyampaikan keinginan untuk memiliki
laptop baru meski laptop lama saya sudah sangat parah kondisinya yakni hanya
bisa menyala jika disambungkan dengan sumber arus alias batereinya yang sudah
tidak beres. Karena bagi saya, punya laptop baru bukanlah prioritas saya saat
ini, ada yang jauh lebih penting untuk segera diselesaikan. Faktanya kakak saya
justru yang lebih kencang dalam mewujudkan laptop baru tersebut bagi saya.
Alhasil, hadirlah si leading inovation di hadapan saya saat ini.
Laptop baru,
semangat baru. Khususnya semangat menulisnya. Kendati demikian saya tidak ingin
ruh saya dalam menulis muncul lantaran laptop baru. Khawatirnya ini merupakan
materialisme gaya baru. Kok bisa? Iyalah!!!Manusia yang hendak melakukan
sesuatu karena iming-iming materi sama saja “menggantungkan” nyawanya pada
hal-hal yang bersifat material dan ( biasanya ) bersifat optis, ada dan terasa
oleh panca indera manusia. Panca indera menjadi satu-satunya perangkat andalan
menjalani kehidupan ini sehingga manusia yang sejatinya juga mempunyai intuisi
malah mendekati sifat bak hewan. Terdengar kasar namun sepertinya ini adalah
analogi yang mudah dicerna. Kebahagiaan sesaat, bukan yang hakiki.
Bicara soal
bahagia. Hmmm...terus terang saya agak bingung dalam mengulasnya. Istilah yang
satu ini merupakan hal yang sangat ingin diraih oleh setiap insan. Tetapi hal
yang membuat segalanya ribet ialah kerelatifan manusia dalam memandang
kebahagiaan itu sendiri. Ibarat sebuah fungsi, bisa jadi bahagia merupakan
persamaan fungsi waktu. Kapan ia berada maka kuantitas dan jenis kebahagiaan
yang dirasakan bisa saja berbeda-beda. Contoh sederhana, jika dikaitkan dengan
masalah finansial. Coba bandingkan saja perasaan antara awal bulan dan
pertengahan bulan, kemungkinan besar pasti beda ( jauh ). Pun dengan dengan
situasi, sebab, dan pelbagai hal yang menjadi variabel dalam menentukan
kualitas dan kuantitas kebahagiaan seseorang. Uniknya, antara manusia yang satu
dengan yang lain mampu merasakan jenis kebahagiaan yang berbeda dalam waktu
yang sama. Sekali lagi, kerelatifan dan cara berpikir seseorang dalam
mendefinisikan sebuah kebahagiaan itu sendiri.
Namun ada
satu hal yang pasti, kebahagiaan hanya dapat hadir ketika rasa syukur yang
didatangkan dalam hati sanubari manusia. Karena seringkali, kita tertipu dengan
cara pandang kebahagiaan yang terlalu kaku, sempit, dan saklek. Apa yang
membuat seseorang bahagia terlalu dinilai secara eksak, sehingga apa yang
didapati saat ini tidak bisa dipandang sebagai suatu kebahagiaan. Ini namanya
menyiksa diri. Sekarang yang dihadapi maka itulah hal-hal yang sebenarnya mampu
membuat kita bahagia saat ini, bukannya mengkambinghitamkan nasib yang dinilai
tidak mujur. Ah, buanglah jauh-jauh pemikiran tersebut. Yakinlah bahwa takdir
kita hari ini meruapakan hal terbaik yang kita dapati. Sibuk dengan masa lalu
yang tak mungkin kembali dan cemas dengan masa depan yang belum pasti dan tentu
saja belum dapat diketahui sekarang merupakan suatu tindakan yang konyol.
Bersyukur dan jalanilah hari ini dengan optimal, maka Insya Allah kebahagiaan
itu akan datang kepada mereka yang mau membuka dirinya dengan takdir yang ia
alami. Sekian
