Rabu, 25 Januari 2012
Menjelang ke kampus lagi
Taktik dan strategi. Strategi dan taktik.
Dibolak-balik sama saja. Keduanya unsur utama dalam membangun sebuah
“bangunan”. Bangunan impian, imperium ide ( meminjam istilah yang
dipakai oleh Ridwan Budiman ), tangga cita-cita, sejuta asa, dan
apapun. Pasti perlu strategi dan taktik. Pun dalam membangun dakwah
yang bisa menegakkan ajaran Islam, tidak lepas dari strategi dan
taktik yang digunakan oleh para aktivisnya.
Tadi pagi saya membaca sebagian terjemahan dari
surah Al-Anbiya. Ada hal menarik yang menurut saya bisa dijadikan
pelajaran yang amat berharga. Kala itu mata saya tertuju pada bagian
yang menceritakan Nabi Ibrahim AS dalam meyakinkan kaumnya kalau
berhala yang mereka sembah selama ini sebenarnya bukan Tuhan. Hal
yang unik ialah cara yang beliau gunakan. Sudah bukan rahasia lagi,
Nabi Ibrahim AS menghancurkan semua berhala yang ada di istana dan
hanya meninggalkan berhala terbesar dan digantungkannya palu untuk
menghancurkan patung-patung tadi di berhala yang terbesar itu. Ketika
raja Namrud mendapati sesembahannya hancur, tidak butuh lama ia pun
langsung menanyakan sekaligus menuding Nabi Ibrahim AS sebagai
tersangka utama. Taktik yang digunakan untuk merespon pertanyaan raja
Namrud ialah meminta raja menanyakan patung yang terbesar sekaligus
menyuruhnya bertanya siapakah yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka.
Raja Namrud terang saja menyahut bahwa patung tidak mungkin mampu
berbicara. Nabi Ibrahim AS pun menjawab, “ Mengapa kamu menyembah
selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun,
dan tidak ( pula ) mendatangkan mudarat kepadamu ? ( QS. Al-Anbiya :
66 ). Tentu saja, mereka sebenarnya sudah paham bahwa yang namanya
patung tidak mungkin dapat bergerak dan berbicara bahkan sesembahan
itu mereka sendirilah yang membuatnya lantas kenapa kita yang manusia
saja yang notabene jauh lebih bisa berbicara dan bertindak justru
menjadikan berhala tadi sebagai tuhan? Tidak masuk akal! Cara cerdas
dari Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan secara terang kebodohan kaumnya
selama ini.
Itu
zaman yang sudah terlewat berabad-abad yang lalu. Sejarah pun
bergulir hingga ada masa Islam mampu berjaya kemudian masa pun
dipergilirkan hingga di Turki Usmani yang mengawali kemuduran Islam
hingga saat ini, masa jahiliyah kedua dan menuju kejayaan Islam yang
terakhir, kejayaan di abad milenium. Saat ini, penyembahan terhadap
berhala juga mulai marak kembali bahkan dengan kemasan yang lebih
modern, atas nama pelestarian kebudayaan. Bila diperhatikan lebih
seksama lagi, banyak di sekeliling kita simbol-simbol paganisme yang
tampaknya memang sengaja ditambilkan beberapa pihak untuk eksistensi
paganisme itu sendiri. Pemujaan terhadap popularitas, uang,
liberalisme, humanisme yang ujungnya juga tertuju pada the
one eye,
si mata satu, simbol yang secara tersirat di dalam hadist juga
disebutkan sebagai simbol dajjal. Itu saja masih diiringi dengan
bintang yang sebenarnya merupakan baphomet, dewa matahari, lucifer,
dan lain-lain. Era kini lebih pada doktrinisasi secara tidak sadar
kepada kita akan penyembahan kepada berhala-berhala tadi, tentu
dengan cara dan perangkat yang semakin canggih.
Kembali, strategi dan taktik. Sudahkah kita,
sebagai kader dakwah, menyadari hal ini ?

